A A
RSS

TAUKAH ANDA GARAM ADALAH ALAT PEMBAYARAN PADA ZAMAN DULU ?

Wed, Aug 1, 2018

Artikel, Garam Dunia, Top Artikel

 

Garam sudah dikenal sejak pada zaman dahulu. Banyak sekali manfaat atau kegunaan dari garam seperti sebagai penyedap masakan, obat tradisional, pengawet makanan, dan lain-lain. Selain itu, ada keunikan tersendiri pada pemanfaatan garam di berbagai negara pada zaman dahulu. Orang-orang memakai garam sebagai alat pembayaran. Garam sangat penting bagi kehidupan. Filsuf Yunani Kuno, Plato, mengatakan bahwa garam merupakan material yang dicintai oleh dewa (kompasiana.com). Pada masa Romawi Kuno harga garam sangat mahal dan langka. Maka pada masa itu garam dipakai untuk membayar gaji para pekerja dan prajurit. Dalam Bahasa Latin garam disebut salarium. Uniknya, kata salarium kemudian masuk ke dalam Bahasa Inggris, salary, yang berarti gaji.

Selain di Romawi Kuno, pada beberapa suku bangsa, pembayaran dilakukan dengan benda yang nilainya diakui. Tulang hewan, cangkang kerang, dan bahan makanan adalah contohnya. Bahan makanan yang digunakan sebagai alat pembayaran umumnya adalah gandum dan garam. Di Ethiopian sekitar tahun 1920, garam pernah digunakan sebagai alat tukar atau pembayaran. Entah bagaimana bentuk garam yang digunakan sebagai alat tukar. Dari ilustrasi yang ada, di Ethiopia uang garam berbentuk empat persegi panjang. Sayang tidak disebutkan ukuran batangan garam itu.

 

 

Dikutip dari laman kompasiana.com, menurut Kamus Arkeologi Indonesia 2 tahun 1979, di Indonesia sendiri pun pada masa ratusan tahun yang lalu sudah memproduksi garam. Sebagai bukti sejarahnya adalah sebuah Prasasti Biluluk I, bertarikh 1288 Saka atau 1366 Masehi. Prasasti itu berbahan tembaga dan ditemukan di Desa Biluluk, Lamongan, Jawa Timur dengan menggunakan aksara dan bahasa prasasti Jawa Kuno. Pada prasasti tersebut, garam disebut juga dengan wuyah atau buyah.Prasasti ini menceritakan bahwa pada zaman dahulu Desa Biluluk adalah tempat orang-orang membuat garam dan terdapat sumber air asin. Pengunjung yang dating diperbolehkan untuk membuat garam di sana dengan membayar pajak kepada penguasa Desa Biluluk. Pajak garampun terbagi menjadi dua, yakni pajak pedagang dan pajak perajin (kompasiana.com, 2017).

Peneliti seperti Titi Surti Nastiti, berdasarkan pada prasasti seperti Prasasti Turyyan, Prasasti Waharu I atau Prasasti jenggolo, menyebutkan bahwa kegiatan jual beli di pasar menggunakan garam sebagai alat pembayaran juga sebagai alat pembayaran pajak para pedagang. Di kesempatan lain, Antoinette M. Barrett Jones dalam bukunya Early Tenth Century Java From The Inscriptions (1984) menyebutkan garam sebagai barang dagangan yang dipikul (pinikul dagang). Selain garam, ada beras, bawang, gula, kapas, dan sebagainya. Bentuk pikulan pada masa lalu tergambar pada relief candi. Prasasti-prasasti yang merupakan bukti sejarah garam di Indonesia banyak ditemukan di wilayah Jawa Timur dengan asumsi bahwa air laut yang berada di Jawa Timur memiliki kualitas yang lebih bagus daripada di wilayah yang lain.

 

Sumber : https://www.kompasiana.com/djuliantosusantio/5984088c082fcd1915011bb2/zaman-dulu-garam-digunakan-untuk-membayar-gaji-pekerja

Disunting Oleh : HOOD

Share

Tags: , , , , ,

Comments are closed.