A A
RSS

Swasembada Garam Mulai 2019

Wed, Jul 12, 2017

Berita

Demi mencapai prognosis tersebut Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di era Jokowi – JK harus menjalankan program khusus. Garis besar strategi yang perlu dijalankan tak jauh-jauh dari intensifikasi lahan yang tersedia serta ekstensifikasi lahan yang belum dimanfaatkan.


Kepala Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri Kemenperin Sudarto menyatakan peningkatan produktivitas industri garam nasional harus dijalankan serius.

Pasalnya tren kebutuhan terus meningkat terutama garam industri yang mayoritas dibeli dari luar negeri. Menurut dia, kebutuhan garam industri pada tahun depan akan tumbuh 5% terhadap realisasi permintaan tahun ini. Sementara perkembangan kebutuhan garam konsumsi tergantung kepada laju pertumbuhan penduduk dengan asumsi per orang menyerap tiga kilogram garam setahun.

“Setiap tahun dibutuhkan peningkatan industri garam 50.000 ton, maka impor harus bisa disubtitusi oleh produksi dari sentra-sentra garam lokal,” tuturnya, Selasa (14/10).

Garam industri merupakan garam yang digunakan sebagai bahan baku dalam proses produksi di sejumlah sektor bisnis. Industri yang dimaksud a.l. industri kimia, aneka pangan, farmasi, perminyakan, penyamakan kulit, dan pemeliharaan air.

Garam konsumsi lazimnya diolah menjadi garam meja dan garam diet. Ketergantungan impor terparah dialami garam industri karena spesifikasi yang dibutuhkan belum bisa dipenuhi sentra-sentra produksi di dalam negeri.

“Swasembada yang harus kita capai adalah swasembada garam industri [dan konsumsi] bukan hanya swasembada garam bahan baku,” ucap Sudarto.

Dari perkirakaan produksi garam domestik 2,5 juta ton, dia tak yakin bisa tercapai. Menurutnya angka realistis yang bisa dipenuhi pada tahun ini di kisaran 1,4 juta ton. Jumlah ini dijanjikan bakal bertambah berlipat jika program intensifikasi dan ekstensifikasi berjalan efektif mulai 2015.

Saat produksi berlipat 100% menjadi 2,8 juta ton maka industri nasional bisa mensubtitusi impor garam konsumsi sejumlah 450.000 – 500.000 ton pada 2017. Pasalnya ada teknologi baru yang akan diterapkan dalam proses insentifikasi lahan pertanian.

TEKNOLOGI GEOMEMBRANE

Teknologi yang dimaksud ialah metode geomembrane di meja kristalisasi. Tak tanggungtanggung peningkatan produktivitas garam domestik bisa mencapai 50% – 100%. Lahan produksi yang semula cuma menghasilkan 60 – 70 ton per hektare setiap musim dapat meningkat jadi 90 – 100 ton.

Teknologi tersebut juga bisa menekan ketergantungan terhadap impor, sedangkan pengembangannya butuh waktu sekitar tiga tahun. Dengan asumsi diterapkan mulai 2016, maka pada 2019 industri garam lokal bisa mensubtitusi impor garam industri sejumlah 1,5 juta ton per tahun.

Investasi per hektare untuk menerapkan teknologi tersebut diperkirakan Rp25 juta. Proyek percontohan metode geomembrane di meja kristalisasi diterapkan kepada petani garam di Jepara, Pati, Demak, dan Rembang totalnya 220 orang.

“Dari seluruh binaan kami, mereka melaporkan produktivitasnya meningkat mencapai 100%,” ucap Sudarto. Selain lebih berkualitas dan bersih, metode tersebut juga mempersingkat proses pengolahan menjadi garam industri. Metode itu juga diklaim mampu meningkatkan produktivitas ladang garam sempit asalkan sinar matahari dan angin cukup.

Metode geomembrane ditargetkan menyentuh sedikitnya 3.000 orang petani garam. Mereka tersebar di lahan pertanian seluas 20.000 hektare di berbagai wilayah di Tanah Air. Selain masuk dalam program intensifikasi lahan, metode ini perlu diterapkan pula untuk lahan baru.

Ekstensifikasi lahan yang belum termanfaatkan pada tahun-tahun mendatang harus membidik Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan asumsi bakal ada tambahan produksi nasional 30% – 50%. Area yang dituju ialah Teluk Kupang, Ende, dan Nagekeo dengan total lahan prospektif mencapai 11.430 hektare.

Luas tersebut berasal dari area di Kapupaten Kupang (Teluk Kupang) 7.700 hektare, Kabupaten Nagekeo (Mbay dua) 2.490 hektare, dan Ka bupaten Ende 1.240 hektare. Wilayah ini po tensial terdukung iklim setempat dengan mu sim kering hingga delapan bulan, di Jawa cuma 4,5 bulan.

Wakil Menteri Perindustrian Alex S.W. Retraubun berpendapat hajat peningkatan produktivitas industri garam pada tahun-tahun mendatang sukar terwujud jika hasil penelitian dan pengembangan, seperti metode geomembrane, tak ditindaklanjuti menjadi kebijakan nasional.

Sepanjang tahun ini Kemenperin memperkirakan kebutuhan garam mencapai 3,5 juta ton. Sementara kemampuan produksi petani lokal maksimal baru menyentuh kisaran 2,5 juta ton. Volume produksi ini dengan asumsi panen raya berlangsung selam 4,5 bulan.

Sumber:
http://www.kemenperin.go.id/artikel/10219/Swasembada-Garam-Mulai-2019

Share

Comments are closed.