A A
RSS

PILIH JADI PETANI GARAM, PEMUDA DI MBAY SULAP KOLAM ALAM MENJADI SAWAH GARAM

 

Menjadi petani garam adalah pekerjaan yang jarang digeluti pemuda masa kini. Namun tidak bagi sekelompok pemuda yang dipimpim Yakobus Mapa. Pemuda asal Kobagheje Desa Aeramo ini menyulap kolam alam menjadi sawah garam. Jek, begitu ia akrab disapa, pemuda asal Dusun I, Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo itu bersama rekan-rekannya menyulap kolam alam di Nagelewe Desa Aeramo menjadi lahan garam di saat musim kemarau.

Aeramo merupakan desa perbatasan dengan Kecamatan Wolowae Kabupaten Nagekeo. Di desa ini sebagian besar potensi alamnya cukup banyak. Selain sawah irigasi, juga terdapat kolam alam yang terletak di Nagelewa dengan jarak kurang lebih 1 km dari pesisir pantai. Tapi rupanya masyarakat belum menfaatkan secara baik potensi itu. Saat musim hujan, biasanya kolam alam ini dimanfaatkan untuk dijadikan kolam ikan. Saat kemarau, kolam ini dibiarkan begitu saja.

Di tangan kelompok di bawah asuhan Jek, kolam alam itu diubah menjadi lahan bermanfaat untuk sawah garam. Mereka memanfaatkan air di kolam alam itu dan menggunakan terpal serta ember untuk menghasilkan garam. Garam tidak saja sebagai bahan konsumsi semata. Namun garam juga bisa dikategorikan dalam bahan industri.
Jek kepada POS-KUPANG.COM di Mbay, mengatakan, bekerja sebagai petani garam lebih menjanjikan dan menguntungkan dibanding kerja sawah. “Yang saya alami kerja sawah lebih sulit bahkan hasilnya tidak sebanding dengan hasil garam. Kerja sawah empat bulan baru panen. Kalau petani garam 1 minggu kita sudah dapat uang,” ujar Jek (tribunnews.com, 2018). Jek mengatakan, cukup 20 terpal maka satu minggu petani memanen 3 ton garam, di mana pendapatan mereka jauh lebih tinggi dibandingkan kerja sawah.

“Apalagi saat ini padi milik petani di Aesesa rata-rata banyak gagal panen. Sehingga saya lebih suka bertani garam. Selain itu juga saya membuka lapangan kerja baru bagi penggannguran,” kata Jek. Ia mengaku dirinya menjadi petani garam dengan swadaya dari inisiatif sendiri tanpa ada dukungan dari pihak lainnya. “Sehingga keterbatasan saya dengan lahan yang ada saya pikir lahan ini bisa berkembang kalau di dukung dengan ketersedian dari beberapa alat pendukung. Karena lahan kita ini cukup besar. Potensi garam di Desa Aeramo ke depan saya berpkir sangat bagus. Tinggal masyarakat dan pemerintah setempatnya untuk bisa saling kerja sama,” ujarnya.
Jek mengaku potensi garam di wilayah Desa Aeramo cukup besar. Namun hanya ada beberapa faktor kendala. Kendala pertama, yakni masalah infrastruktur ke lokasi tambak garam. Selama ini untuk mengangkut garam, Jek masih menggunakan transportasi laut. Itu dobel biayanya. Sebab itu, dia berharap kedepannya ada bantuan dari Pemda Nagekeo atau dinas terkait. Masalah kedua, terkait pemasaran. Selama ini hanya konsumen rumah tangga dan mensupplay ke nelayan-nelayan untuk pengawet ikan.

Untuk harga garam perkarung bervariasi. Tergantung jangkauan dan jarak. Menurut Jek, perminggu hasil garam bisa mencapai 50-60 karung berukuran 50 kg. Dia mengaku pekerjaan menjadi petani garam ini hanya dibutuhkan pada saat cuaca cerah atau panas. “Satu minggu bisa mendapatkan uang 4 juta. Total karyawan saya 5 orang. Dengan sistem pembayaran upah karyawannya tergantung penghasilan,” tegasnya.
Sumber: http://kupang.tribunnews.com/2018/09/26/pemuda-di-mbay-sulap-kolam-alam-menjadi-sawah-garam?page=all

Disunting Oleh: HOOD

Share

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Comments are closed.