A A
RSS

Lima Hal Tentang Alif Hidayat, Bocah Yatim yang Berbuka dan Sahur dengan Garam dan Mimpi-mimpinya

Mon, May 28, 2018

Artikel, Berita, Renungan, Top Artikel

Alif Hidayat atau biasa disapa Alif menjadi viral setelah kisah hidupnya diunggah oleh seorang warganet melalui akun Instagram @tikalestariparmana.

Sejak usia 11 bulan, Alif yang kini sudah berusia enam tahu, sudah ditinggal ayah dan ibunya lantaran meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.

Tika Lestari mengunggah kisah Alif pada Sabtu (26/5/2018) di akun Line dan diunggah ulang oleh akun Instagram @drama.krl.id sehingga viral.

Ceritanya bermula ketika Tika mengobrol dengan Alif yang duduk bersebelahan dengan neneknya, Heni, di KRL Commuter Line tujuan Stasiun Depok.

Alif bertanya jam kepada Tika, dan berharap waktu sudah memasuki Dzuhur sehingga bisa berbuka puasa karena hanya kuat setengah hari.

Saat itu Tika terkejut mendengar cerita Alif yang hanya berbuka dan sahur dengan nasi dan garam, berbuka pun cukup air putih.

Ia menjelaskan kepada Tika ingin sekali makan ayam kecap dan minum susu kotak.
Walau tak sanggup membeli minuman, Alif cukup senang dengan melihat orang-orang membeli minuman.

Tika mengisahkan perjuangan Alif yang sangat berat, dari pulang jalan kaki tanpa sandal hingga tempat tinggal berupa gubuk reyot dari belas kasihan orang lain.

Alif tetap ceria dan tangguh menjalani hidupnya yang bagi orang lain mungkin tak sanggup bahkan mereka yang sudah dewasa.
Setelah kisahnya viral, Tika mendatangi kediaman Alif di Tanah Gocap, Karawaci, Tangerang.

Berbekal unggahan Tika, TribunJakarta.com pada Minggu (27/5/2018) mencoba mendatangi rumah Alif dan melihat langsung kondisi kehidupan anak yang murah senyum itu.

Setelah mendatangi rumahnya, berikut sejumlah fakta mengejutkan dari kehidupan Alif.

1. Tinggal di gubuk reyot

Sebelum sampai ke rumah Alif, orang harus melewati jalan sempit di sekitarnya.

Tampak dari luar tempat tinggal Alif tak layak karena berupa gubuk reyot di mana dinding dari kayu sudah terkelupas dan bau apek.

Di gubuk yang Alif dan nenek Heni tinggali dikelilingi oleh tanaman liar dan dekat dan dikelilingi makam.

Gubuk tersebut berada tak jauh dari Kali Cisadane.

2. Donasi untuk Alif tembus puluhan juta

Berbekal pengalamannya ke rumah Alif, Tika menggunggah ke media sosial dan membuka donasi untuk keluarganya.

Donasi dibuka hingga Minggu (27/5/2018), namun jika ingin menyumbang bisa menghubungi perwakilan baksos Tangerang, atas nama Dwinova_anjani melalui akun Line.

Berbekal pengalamannya ke rumah Alif, Tika menggunggah ke media sosial dan membuka donasi untuk keluarganya.

Donasi dibuka hingga Minggu (27/5/2018), namun jika ingin menyumbang bisa menghubungi perwakilan baksos Tangerang, atas nama Dwinova_anjani melalui akun Line.

Selain melalui Line, donasi juga dibuka melalui platform crowdfunding Kitabisa.com dengan alamat: https://kitabisa.com/bantualif.

Pada awal kisahnya viral, banyak netizen yang tidak percaya pada Tika. Tika pun menyarankan untuk survei langsung ke rumah Alif.

Setelah dibuktikan banyak netizen yang percaya bahkan memberikan donasi ke Alif.
Akhirnya, sumbangan berupa dana, pakaian, dan makanan untuk Alif Hidayat (6) mulai berdatangan dari masyarakat.

Di luar dugaan, banyaknya simpati dari warganet yang merasa iba, membuat Tika sempat merasa kesulitan menampung sumbangan untuk Alif.

“Sampai batas akhir donasi dibuka, jumlahnya bahkan mencapai lebih dari Rp 50 juta,” ucap Tika yang ditemui TribunJakarta.com di rumah Alif.

Tika segera membelikan kebutuhan pakaian, bahan pangan, dan juga yang lainnya untuk diserahkan kepada Alif dan neneknya.

Beberapa donatur, juga meminta Tika agar uangnya bisa diberikan kepada alif dan neneknya, untuk membuka usaha kecil-kecilan agar bisa terus mendapatkan rezeki.

Bahkan, tidak sedikit bantuan dari perorangan yang datang langsung ke kediaman Alif, untuk memberikan sumbangannya.

“Semoga dengan bantuan tersebut, Alif bisa hidup lebih layak lagi dan bisa bersekolah,” papar Tika kepada TribunJakarta.com.

3. Akhirnya bisa sunat

Sebelum Alif viral sudah ada seorang warganet bernama Eka (33) yang telah lebih dahulu mengetahui kesulitan Alif.

Bertemu di kediaman Alif, Eka menuturkan sudah mengenal Alif dan neneknya sejak beberapa bulan yang lalu di Stasiun Duri, Tambora, Jakarta Barat.

Ia menuturkan, ketika itu Alif sedang ikut bersama neneknya, Heni, bekerja di sebuah rumah makan di dekat stasiun tersebut.

Kerap kali berjumpa, timbul rasa penasaran Eka akan kehadiran sosok anak kecil yang kerap kali ia temui.

Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada Alif, kenapa tidak bersekolah dan sering bermain di sekitaran stasiun.

“Saya tanya kenapa enggak sekolah, Alif malah jawab katanya enggak punya uang, terus dia ingin disunat,” ucap Eka kepada TribunJakarta.com di kediaman Alif, Karawaci, Tangerang, Minggu (27/5/2018).

Setelah mengetahui Alif yatim piatu karena ditinggal wafat kedua orang tuanya sejak berusia 11 bulan, Eka pun tersentuh hatinya untuk mewujudkan keinginan Alif.
Akhirnya, pada Februari 2018 Alif bisa disunat dengan bantuan biaya Eka, serta seorang rekannya.

“Saya selalu teringat omongan Alif yang berani ingin disunat, tidak biasanya seorang anak kecil yang berusia enam tahun yang meminta disunat,” kata Eka.

Ia menuturkan sejak saat itu, banyak teman-temannya yang bersimpati kepada Alif dan ikut memberikan sumbangan melalui dirinya.

Eka pun dengan senang hati, menyalurkan sumbangan pemberian rekan-rekannya untuk Alif dan neneknya.

“Namanya amanah harus disampaikan, setiap ada titipan yang sudah saya kasih pasti langsung saya foto, buat jadi bukti bahwa kiriman teman saya benar-benar sudah diterima Alif dan keluarganya,” tutur Eka.

4. Ingin sekolah

Meski terlihat selalu ceria, dalam hati kecilnya Alif sangat ingin bersekolah seperti temannya yang lain.

Hal ini diucapkan Alif kepada kakak-kakak relawan dan donatur yang berdatangan ke gubuk reyotnya.

“Aku mau sekolah, tapi enggak punya uang padahal temen-teman aku sudah masuk TK semua,” kata Alif kepada sambil menunduk sedih.

Nenek Alif yang bernama Heni mengatakan, cucunya tersebut akan memasuki usia tujuh tahun pada Agustus mendatang.

Diusia tujuh tahun, seorang anak mulai memasuki pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yakni sekolah dasar.

Namun, kembali lagi karena keterbatasan biaya, Heni tidak mampu menyekolahkan Alif.

Padahal, Alif sudah mulai bisa membaca dan menghitung, meskipun tidak pernah mendapat pelajaran di dunia pendidikan.

“Kalau ada rezekinya ya mau banget Alif sekolah, tapi untuk makan saja susah mas sampai sahur pakai nasi dan garam,” ucap Heni.

Sekedar informasi, kedua orang tua Alif telah wafat sejak Alif berusia 11 bulan, sejak saat itu hanya Henilah yang merawat Alif hingga saat ini.

5. Perasaan warganet campur aduk

Cerita Tika tersebut mengaduk perasaan dan emosi warganet. Tak sedikit ada yang bersyukur dan ada juga yang membuatnya sadar.

Berikut komentar warganet tentang unggahan Tika yang mengupas kehidupan Alif.

@ekosiwil_: Makasih ya mba, berkat mba dan rekan2 baksos tangerang maupun semua yg udah mau mengulurkan tangannya untuk berdonasi buat alif, Semoga kalian diberikan kesehatan selalu serta rezeki yg dilimpahkan. Amin @tikalestariparmana

@ratnasntya: Makasih juga buat kaka yg udah share cerita alif. Alhamdulillah masih banyak orang orang yg peduli dgn sekitar. Semoga allah bales kebaikan kaka dan semua org terlibat. Alif sehat terus ya

@kebutuhan.ig_: Makasih dek (Alif), kita semua tau apa artinya bersyukur 🙂

@astriarahmawt: Terimakasih mba, sudah menampar sayaa untuk lebih bersyukur lagi dan lagi selama ini cm bisa liat keatas dimana selalu ngerasa kurang terus pdhl amat sgt mencukupii, selalu lupa bersyukur sm Allah dan terimakasih mba senantiasa Allah balas semua kebaikan2 mba nya dan mempermudah urusan mbanya

 

Sumber :http://www.tribunnews.com/nasional/2018/05/28/lima-hal-tentang-alif-hidayat-bocah-yatim-yang-berbuka-dan-sahur-dengan-garam-dan-mimpi-mimpinya?page=4

Share

Tags: , , ,

Comments are closed.