A A
RSS

Cathedral de Sal, Gereja Garam di Bawah Tanah

 

Tahukah Anda adanya Katedral yang berada di bawah tanah dan dibuat dari tambang garam? Katedral tersebut adalah Catedral de Sal atau Katedral Garam. Katedral garam Zipaquira adalah gereja Katolik Roma bawah tanah yang dibangun di dalam terowongan tambang garam sedalam 200 meter di bawah tanah di sebuah gunung halit (rock salt atau batu garam) yang berada di dekat kota Zipaquirá, di Cundinamarca, Kolombia.

Zipaquira adalah salah satu tujuan wisata sekaligus tempat ziarah di negara di Kolombia. Arsitektur gua di bawah memiliki tiga bagian yang menggambarkan kelahiran, kehidupan, dan kematian Yesus. Ikon, ornamen dan detail arsitektur diukir dengan tangan di batu halit. Beberapa patung marmer juga diletakkan di sana untuk melengkapi kesakralan tempat tersebut. Katedral garam dianggap sebagai salah satu karya arsitektur Kolombia yang fenomenal, Katedral tersebut merupakan warisan budaya, lingkungan, dan agama yang berharga bagi orang-orang Kolombia.

Katedral garam tersebut biasanya dikunjungi jemaat sebanyak 3.000 pengunjung pada hari Minggu, namun katedral itu tidak memiliki uskup dan karena tidak memiliki status resmi sebagai katedral dalam Katolisisme. Katedral itu juga dilengkapi dengan berbagai kafe, restoran, dan toko-toko souvenir di sepanjang lorong gua yang disediakan bagi pengunjung umum. Katedral garam tersebut berada di 49 kilometer sebelah utara Bogota dan terletak ketinggian 2.652 meter di atas permukaan laut.
Selain menggunakan bis atau mobil pribadi, perjalanan ke zipaquira juga bisa ditempuh dengan menggunakan kereta wisata atau yang lebih dikenal dengan Tren Turistico De La Sabana (kereta tersebut merupakan satu-satunya di Kolombia). Selain katedral, tempat ini terkenal karena dekat dengan salah satu pemukiman manusia tertua di Amerika, yaitu situs arkeologi El Abra.

Gunung garam di Zipaquirá terbentuk sekitar 250 juta tahun yang lalu di periode Tersier akhir ketika pegunungan Andes terbentuk. Pertambangan batu garam di daerah tersebut sudah dieksploitasi oleh masyarakat sejak zaman pra-Colombian Muisca abad ke-5 SM dan menjadi salah satu aktivitas ekonomi terpenting mereka saat itu. Pertambangan batu garam di Zipaquira memiliki cadangan garam yang sangat besar dengan estimasi sebesar satu juta meter kubik.

Jauh sebelum katedral atau gereja bawah tanah dibangun sekitar tahun 1932, para penambang telah memiliki gereja kecil sebagai tempat untuk doa harian mereka untuk meminta perlindungan kepada orang-orang kudus sebelum mulai bekerja. Pada 1950, pembangunan katedral garam dimulai, diresmikan pada 15 Agustus 1954 dan didedikasikan untuk Our Lady of Rosary, sang pelindung para penambang. Namun, karena Katedral dibangun di dalam tambang yang aktif serta adanya permasalahan struktur dan masalah keamanan, akhirnya pihak berwenang menutupnya pada September 1992.
Biaya konstruksi dari gereja tersebut lebih dari 285 juta dolar AS. Bangunan itu memiliki panjang 120 meter, permukaan 5.500 m², dan tinggi 22 meter, memiliki enam kolom utama dengan kapasitas maksimum 8.000 orang. Bagian tengah utama katedral termasuk salah satu yang monumental, yaitu sebuah salib yang disorot lampu dari bawah ke atas sehingga membentuk sebuah bayangan besar berbentuk salib di langit-langit gua. Bagian tengah kanan mencakup ikon Stations of the Cross dan kapel Rosario, dengan Virgin of Rosary Icon. Bagian kiri terdapat berbagai ikon kelahiran Yesus dan pembaptisan Yesus dengan air terjun yang melambangkan Sungai Yordan.

Pada 1991, pembangunan katedral baru dilakukan dan berada 200 kaki lebih dalam dari yang sebelumnya. Katedral baru tersebut diresmikan pada 16 Desember 1995. Dari pembangunan tersebut terdapat penambahan kecil namun sangat signifikan di berbagai koridor dan tempat berdoa. Perubahan pada katedral yang baru meliputi beberapa hal pada pintu masuk gereja yang terdapat 14 kapel kecil yang menggambarkan peristiwa perjalanan terakhir Yesus. Setiap kapel memiliki salib yang diukir di dalam struktur batu garam. Tiga buah naves yang saling terhubung yang melambangkan kelahiran dan kematian Kristus, serta empat kolom silinder besar yang mewakili Empat Penginjil.

Dengan demakin banyaknya pengunjung baik dari kolombia sendiri maupun dari negara lain, maka area Katedral tersebut dibangun kompleks Parque de la Sal atau Taman Garam yang lebih besar, termasuk didalamnya museum pertambangan, mineralogi, geologi, dan sumber daya alam. Kompleks Parque de la Sal berdiri di area seluas 32 hektare, pengunjung dapat menikmati karya seni, proses penambangan, tampilan geologi, pameran pendidikan tentang pertambangan ramah lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Tempat-tempat utama di area Parque de la Sal tersebut antara lain, The Sacred Axis: sebuah persegi dengan salib tangan yang dipahat setinggi 4,2 meter, kubah garam, tambang dan museum, di mana pengunjung belajar tentang cara kerja proses ekstraksi garam dari halit. Selain itu terdapat juga pameran studi geologi, teknik dan proses pembangunan katedral.
Sumber: https://kumparan.com/ekalyptha-setyo-cahyono/gereja-bawah-tanah-di-kolombia-1542720854661541599

Disunting Oleh: HOOD

Share

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Comments are closed.