Post Power Syndrome
Post power syndrome adalah gejala yang terjadi dimana ‘penderita’ hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (entah jabatannya atau karirnya, kecerdasannya, kepemimpinannya atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini,Menurut yang saya baca dan kalo boleh saya kutip dari mailing list konseling, sebetulnya, secara umum syndrome ini bisa kita katakan sebagai masa krisis dan kalau digolongkan krisis ini adalah semacam krisis perkembangan. Dalam arti, pada fase-fase tertentu di dalam kehidupan kita, kita bisa mengalami krisis-krisis semacam ini. Pada gejala post power syndrome ini, khususnya adalah krisis yang menyangkut satu jabatan atau kekuasaan, terutama akan terjadi pada orang yang mendasarkan harga dirinya pada kekuasaan. Kalau misalnya dia tidak mendasarkan dirinya pada kekuasaan, gejala ini tidak tampak menonjol.
Dari awal saya melayani Tuhan, saya selalu diajarkan untuk tidak menganggap apa yang saya miliki adalah karena kehebatan dan kemampuan saya, tetapi semata-mata anugrah dari Tuhan yang dipercayakan kepada saya. Saya jadi inget lagu ini:
Bukan karna kebaikanMu
Bukan karna fasih lidahMu
Bukan karna kekayaanMu
Kau dipilih kau dipanggilNya
Bukan karna kelebihanMu
Bukan karna baik rupaMu
Bukan karna kecakapanMu
Kau dipanggil, kau dipakaiNya
Bila engkau dapat, itu karenaNya
Bila engkau punya semua daripadaNya
Reff :
Semua karna anugrahNya
DibrikanNya pada kita
Semua anugrahNya bagi kita
Jika kita dipakaiNya
Oke nyanyi lagu ini memang mudah, lirik dan nadanya pun enak didengar, tapi ujian terhadap kerendahan hati terjadi bukan ketika kita menyanyi, tetapi dalam kehidupan sehari-hari.
Penatua di gereja saya acapkali bilang kalau jabatan itu ngga ada artinya tanpa hakekat dari jabatan itu, apa fungsi dan apa gunanya bagi orang lain. Dan saya pun bersyukur karena sampai hari ini saya tidak mengalami post power syndrome itu. Tapi ternyata tanpa saya sadari, kebiasaan memimpin dan me-manage itu ngga bisa hilang dengan mudah. Apalagi jika orang yang menggantikan kita belum atau tidak bisa melakukan apa yang kita lakukan. Walhasil I feel hopeless gethu liat diri sendiri yg sudah tidak punya power tapi ngga nahan liat sesuatu yang ngga beres hehe, termasuk post-power syndrome ngga sih? Ga jelas. Friends urged me to stay calm and just pray for the goodness of each member in the ministry and also for the leaders to see thru’ God’s will.
Disisi yang lain, ada perasaan bebas yang saya pikir malah cenderung ‘negatif’ yang saya rasakan, perasaan kalau saya tidak harus lagi menyiapkan diri, menyiapkan hati, saya tidak harus memimpin rapat dan juga menjadi contoh/ teladan bagi yang lain. At least kondisi saya sekarang tidak lagi banyak dituntut lebih untuk menjadi teladan (ini hanya pemikiran saya sesaat saja). Padahal kalo saya pikir lebih dalam, saya tetap harus menjadi teladan dan contoh bagi yang lain. Tidak bisa tidak.
Nah bicara soal post-power syndrome yang tadi, yang jadi pertanyaan adalah, apa yang harus kita lakukan untuk mencegahnya? Menurut yang saya baca dan menurut hemat saya sih:
1. Pada saat kita melakukan sesuatu atau sebelum menjabat, kita perlu belajar menyadari bahwa segala sesuatu itu adalah karunia dari Allah termasuk kekuasaan dan jabatan. Tugas kita adalah hanya sebagai alat yang dipakai Allah untuk melakukan pekerjaan-Nya. Jadi, kita ngga boleh mengganggap kuasa/ jabatan yang dipercayakan kepada kita sebagai milik kita yang harus kita pertahankan sepenuhnya.
2. Kita juga harus selalu menyadari bahwa kekuasaan itu tidak bersifat permanen dan kita harus menyiapkan diri apabila suatu ketika kuasa itu lepas dari diri kita. Apabila tiba-tiba kita kehilangan kekuasaan, tetapi kita mempunyai persiapan sebelumnya, maka kita akan lebih tahan menghadapi krisis ini.
3. Sebaiknya selama memegang jabatan, kita tidak memikirkan bagaimana mempertahankan kekuasaan, tetapi kita memikirkan untuk melakukan kaderisasi. Justru karena dengan kita melatih dan mendidik, maka nantinya kita dihargai, karena kita telah melakukan suatu regenerasi dan melakukan pendidikan, tugas mendidik orang lain, bukan karena kekuasaan yang kita miliki.
4. Kita perlu belajar rendah hati, seperti juga Yohanes Pembaptis yang mengutamakan nama Kristus daripada dirinya sendiri. Ucapan Yohanes Pembabtis yang terkenal adalah demikian “Ia, maksudnya Kristus, harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil,” Yohanes 3:30. Kita harus selalu menyadari bahwa nantinya itu bukan nama kita, tetapi nama Tuhan.
5. Sebanyak mungkin menanamkan kebaikan selama kita berkuasa. Kalau kita banyak menyakiti hati orang, kita banyak menindas orang, waspadalah bahwa gejala post power syndrome ini dekat dengan kita. Tujuan utama kekuasaan bukan agar kita dihargai orang, tetapi supaya kita berbuat banyak bagi kesejahteraan orang lain.
Wah…jadi panjang nih tulisan, tapi intinya gw hanya ingin fair dengan diri sendiri, nulis sejujur jujurnya kalo terkadang I feel so unwanted hehe, dateng dan pulang dari ibadah / pelayanan tanpa merasa terbeban lagi. But I knew it’s wrong dan kekosongan itu harus saya isi dengan hal2 yang lain yg bisa membangun orang lain. Ayo anto, don’t feel so hopeless and unwanted. God wants you to be strong and still serve Him steadfastly no matter what. God still uses you as a channel of blessing to others in each situtation and stand firmly for He saith,”I AM WHO I AM”.

Thu, Jun 9, 2011
Renungan